Showing posts with label makalah. Show all posts
Showing posts with label makalah. Show all posts

Friday, April 27, 2012

hormon


Kontribusi berbagai jaringan khusus di dalam tubuh bagi fungsi normal organisme multiseluler dalam suatu cara yang terintegrasi membutuhkan adanya komunikasi antara sel. Komunikasi ini terutama dilakukan oleh empat sistem yang berbeda, yaitu:
1.      Sistem saraf, baik sentral maupun perifer yang bekerja melalui sinyal neurotransmitter listrik yang kompleks dan lengkung reflex.
2.      Sistem endokrin yang melalui bebagai kelenjar, membuat dan mengeluarkan hormon ke dalam darah yang memiliki efek fisiologis pada jaringan sasaran.
3.      Sistem parakrin dan autokrin yang membentuk dan mensekresikan zat ke dalam ruang antar sel dan memodifikasi fungsi sel tanpa masuk ke dalam aliran darah.
4.      Sistem imun, yang memantau dan memperantarai respons terhadap ancaman eksternal (misalnya, agen infeksiosa, protein asing) dan internal (neoplastik) terhadap organisme.
Tidak satupun dari keempat di atas yang bekerja tanpa bergantung pada yang lain. Misalnya, zat neurokimia yang dihasilkan di sistem saraf bekerja sebagai neurosinyal local (neurotransmiter), dan juga dapat masuk ke dalam sirkulasi dan bekerja di tempat jauh sebagai hormon, beberapa hormon yang beredar dalam darah juga memiliki kemampuan mengatur sistem saraf pusat. Bahkan kompetensi sistem imun bergantung pada pengaruh endokrin saraf.
Walaupun hubungan timbal balik tersebut menyebabkan batasan disiplin endokrinologi menjadi sulit ditentukan, tema sentral pada sistem endokrin berkaitan dengan hormon dan efek fisiologisnya serta dengan berbagai factor lain yang mengontrol sintesis hormon, sekresinya ke dalam darah, serta inaktivasi dan penguraiannya.
Hormon berasal dari Yunani yang berarti “menimbulkan atau membangkitkan”. Hormon adalah suatu zat kimia yang bertugas sebagai pembawa pesan (chemical messenger), disekresikan oleh sejenis jaringan, dalam jumlah yang sangat kecil dan dibawa oleh darah menuju target jaringan di bagian lain dari tubuh untuk merangsang aktivitas biokimia atau fisiologi yang khusus. Endokrinologi, suatu cabang ilmu biomedis yang mempelajari hormon dan aktivitasnya, merupakan salah satu bidang biokimia yang sangat menarik karena beberapa pemahaman baru berasal dari bidang ini. Lagi pula, karena perubahan dalam kerja hormon dapat menimbulkan penyakit, maka endokrinologi juga merupakan suatu cabang ilmu biokimia yang kegunaannya dapat dilihat secara langsung,
Berbagai macam hormon sudah diketahui dan banyak lagi yang ditemukan. Selain mengatur beberapa aspek metabolisme, hormon juga mempunyai fungsi yang lain yaitu yang mengatur pertumbuhan sel dan jaringan, denyut jantung, tekanan darah, fungsi ginjal, pergerakan saluran gastrointestinal, sekresi enzim-enzim pencernaan, laktasi dan sistem reproduksi.
Tempat sintesis hormon yang normal adalah hipotalamus, kelenjar hipofisis anterior dan posterior, kelenjar tiroid dan para tiroid, sel pulau langerhans pankreas, korteks dan medulla adrenal, gonad, plasenta, dan sel tertentu di saluran cerna, otak, dan miokardium. Hormon juga dihasilkan oleh neoplasma nonendokrin. Proses ini dikenal sebagai pembentukan hormon ektopik.
Hormon beredar dalam plasma dalam konsentrasi rendah. Dengan demikian,agar hormon dapat menimbulkan efeknya pada jaringan sasaran, sel harus memiliki reseptor di membran plasmanya atau bagian dalam yang mengenali dan berikatan dengan hormon bersangkutan dengan afinitas dan spesifitasnya yang tinggi.
Karakteristik pembeda pada sistem endokrin adalah adanya mekanisme umpan balik homeostatik  yang ikut menentukan kecepatan pembentukan hormon bagi hampir semua organ endokrin. Misalnya, konsentrasi plasma suatu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin perifer sebagai respons terhadap suatu hormon dari hipofisis anterior berfungsi sebagai sinyal umpan balik ke sel sekretorik hipotalamus dan atau hipofisis anterior. Aktivitas sekretorik sel hipotalamus atau hipofisis terangsang bila kadar hormon perifer subnormal dan terhambat apabila perifer tersebut lebih besar daripada normal.
Akhirnya, lama efek fisiologis suatu hormon sebagian ditentukan oleh tingkat pengikatan ke protein transport dalam sirkulasi (terdapat protein transport untuk hormon tiroid serta hormon steroid adrenal dan gonad), oleh kecepatan inaktivasi yang disebabkan oleh berbagai proses penguraian yang terutama terjadi di hati, dan oleh kecepatan ekskresi hormon atau metabolitnya ke dalam feses atau urin. Hormon polipeptida, misalnya diserap oleh sel melalui proses endositosis. Hormon yang telah mengalami internalisasi ini kemudian diuraikan oleh sistem enzim lisosom di dalam sel.     


Wednesday, April 25, 2012

priming

A.    Tujuan
Mempelajari dan melakukan percobaan berbagai perlakuan priming pada benih.
B.     Tinjauan Pustaka
Prinsip priming adalah mengaktifkan sumber daya yang dimiliki benih (internal) ditambah dengan sumber daya dari luar (eksternal) untuk memaksimalkan pertumbuhan. Perlakuan priming yang tepat akan mengendalikan laju kebutuhan air benih selama perkecambahan serta memacu laju metabolisme. Keadaan ini memungkinkan fase aktivitas berlangsung lama sehingga akan memberikan perbaikan fisiologi, antara lain benih akan berkecambah lebih cepat dan serempak, serta dapat meningkatkan persentase perkecambahannya (Bailly, 1998). Priming membuat perkecambahan lebih dari sekedar imbibisi, yakni sedekat mungkin pada fase ketiga yakni fase pemanjangan akar pada perkecambahan. Selama priming, keragaman dalam tingkat penyerapan awal dapat diatasi.
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan priming, antara lain: jenis benih baik umur maupun spesiesnya (Heydecker, 1975), jenis osmotikum, temperatur imbibisi, kadar atau potensial osmotiknya dan lamanya priming (Heydecker & Gibbins, 1978), serta adanya O2 (Liming et al., 1992).
Kadar air benih merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi benih dalam penyimpanan. Kadar air benih yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya penurunan viabilitas benih, begitu juga sebaliknya, kadar air benih terlalu rendah 3%-5% dapat menyebabkan penurunan laju perkecambahan benih, benih menjadi keras, sehingga pada waktu dikecambahkan benih tidak dapat berimbibisi dan dapat menyebabkan kematian embrio (Kuswanto, 1996). Untuk mengatasi permasalahan kemunduran mutu benih baik yang diakibatkan oleh faktor penyimpanan maupun oleh faktor kesalahan dalam penanganan benih perlu dilakukan suatu cara/metode, salah satunya adalah dengan metode priming (Basu dan Rudrapal, 1982).
Benih bermutu fisiologis unggul adalah benih yang memiliki viabilitas potensial dan vigor yang tinggi, berkadar air yang tepat untuk mempertahankan daya simpan serta tidak terkontaminasi sumber hama dan penyakit, baik selama disimpan maupun sesudah ditanam (Balai Teknologi Perbenihan, 1998). Sedangkan, rendahnya viabilitas benih dapat diterangkan sebagai turunnya kualitas atau viabilitas benih. Kemunduran benih dapat disebabkan oleh kehabisan cadangan makanan, meningkatnya aktivitas enzim, meningkatnya asam lemak, permeabilitas membran, dan kerusakan-kerusakan membran kulit benih akibat dari penyimpanan terlalu lama (Justine, 2002). Kemunduran benih atau turunnya mutu benih yang diakibatkan oleh kondisi penyimpanan dan kesalahan dalam penanganan benih, merupakan masalah yang cukup utama dalam pengembangan tanaman khususnya tanaman juwawut. Kemunduran benih merupakan proses mundurnya mutu fisiologis benih yang menimbulkan perubahan menyeluruh dalam benih baik secara fisik, fisiologis, maupun biokimia yang mengakibatkan menurunnya viabilitas benih (Rusmin, 2008).

uji sach

I.       Topik         : Benarkah Cahaya mutlak dibutuhkan untuk fotosintesis?
II.    Tujuan       : Membuktikan apakah cahaya mutlak dibutuhkan untuk fotosintesis
III. Tinjaun Pustaka
Tumbuhan memilki sifat fisiologi khusus  yaitu kemampuan menggunakan zat-karbon drai udara untuk diubah menjadi bahan organic dan diasimilasikan didalam tubuh tanaman. Peristiwa ini disebut fotosintesis karena hanya berlangsung  ketika ada cahaya. Lengkapnya adalah bahwa fotosintesis atau asimilasi zat-karbon itu suatu proses di mana zat-zat anorganik H2O dan CO2 oleh klorofil diubah menjadi zat organik karbohidrat dengan pertolongan cahaya matahari. Pengubahan energi sinar menjadi energy kimia (karbohidrat) dan kemudian pengubahan energi kimia menjadi energi kerja pada peristiwa pernafasan dalam tubuh tumbuhan merupakan rangkaian proses kehidupan di dunia ini.
(Dwidjoseputro,1994:6)
Organisme yang fotosintetik merupakan organism yang memiliki fisiologi khusus untu melakukan fotosintesis, diantaranya kelompok tumbuahan. Fotosintesis dapat diartikan suatu proses penyusunan zat karbohidrat dengan cahaya sebagai energinya. Fotosintesis ini hanya dapat berlangsung ketika organism itu mempunyai pigmen fotosintetik, karena pigmen ini dapat menyerap cahaya matahari dan dapat digunakan untuk kegiatan fotosintesis. Zat organik yang disusun dalam fotosintesis ini adalah karbohidrat (Cn(H2O)n) yang berasal dari molekul CO2 dan H2O. Sebagai hasil sampingan adalah molekul O2. Proses fotosintesis dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut:
6CO2+12H2O    Cahaya            C6H12O6 + 6O2 + 6H2O
cahaya yang dapat dipergunakan dalam fotosintesis ini mempunyai syarat kualitas (jenis gelombang) dan kuantitas (intensitas cahaya) tertentu. Dalam kondisi normal, cahaya matahari memenuhi semua syarat itu, sehingga secara alami, cahaya matahari merupakan sumber energy bagi fotosintesis. Pigmen fotosintetik, sebagai penangkap energi cahaya matahari, berupa klorofil dan atau karotinoid.
            Sumber CO2 dan H2O yang merupakan bahan dasar dari proses fotosintesis dapat berasal dari sisa oksidasi dalam jaringan fotosintetik. Dapat juga berasal dari lingkungan sekitar, CO2 diambila dari atmosphere melalui stomata, sedangkan H2O melalui proses penyerapan yang dilakukan oleh akar. Selain factor yang disebutkan ini fotosintesis juga dipengaruhi factor-faktor lain diantaranya seperti klorofil, suhu, kelembaban, genetic, dll.
Percobaan-percobaan tentang fotosintesis
Lazimnya peristiwa fotosintesis dinyatakan dengan persamaan reaksi kimia sebagai berikut: 6CO2 + 12H2Ocahaya       C6H12O6 + 6O2 + 6H2O. Peristiwa ini hanya berlangsung jika ada klorofil dan ada cukup cahaya. Di antara ilmuwan-ilmuwan yang banyak melakukan eksperimen-eksperimen untuk membuktikan kebenaran peristiwa ini ialah Ingenhousz, Engelmann, Sachs, Hill, Blackman, Ruben, Benson, Calvin, Emerson, Rabinoitch, dll.

Tuesday, April 24, 2012

wawasan nusantara

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memahami tentang arti dari “Peran Pendidikan dalam Wawasan Nusantara dan Integrasi Bangsa”. Dalam penyusunan  makalah  ini tentunya banyak rintangan yang dialami. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun, dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah SWT akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini memuat tentang “Peran Pendidikan dalam Wawasan Nusantara dan Integrasi Bangsa” yang sengaja dibuat demi menyelesaikan tugas Kewarganegaraan  yang diberikan dalam kuliah. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih. Penulis

DAFTAR ISI 
KATA PENGANTAR                                                                                   1 
DAFTAR ISI                                                                                                2
BAB I PENDAHULUAN                                                                             3
A. LATAR BELAKANG                                                                               3
B. PERUMUSAN MASALAH.                                                                      4
BAB II PEMBAHASAN                                                                              4 
A. PENGERTIAN WAWASAN NUSANTARA                                              4 
B. WAWASAN NUSANTARA DAN INTEGRASI NASIONAL                      7 
C. PERAN PENDIDIKAN DALAM WAWASAN NUSANTARA DAN INTEGRASI NASIONAL                                                                           11
BAB III PENUTUP                                                                                      11 
A. SIMPULAN                                                                                              11 
B. SARAN                                                                                                     11
DAFTAR PUSTAKA                                                                                    12

laporan alel ganda

A.                TUJUAN
Mengenal salah satu sifat sifat manusia yang ditentukan oleh pengaruh alel ganda dan menentukan genotipnya sendiri.
B.                 DASAR TEORI
Alel adalah Gen-gen yang terletak pada lokus yang sama (bersesuaian ) dan memiliki pekerjaan yang hampir sama dalam kromosom homolog. Dilihat dari pengaruh gen pada fenotipe, alel memiliki pengaruh yang saling berlawanan.dalam pengekspresian suatu sifat. Di dalam suatu lokus, terdapat sepasang atau lebih alel. Bila terdapat sepasang alel dalam suatu lokus, maka disebut alel tunggal. Bila terdapat lebih dari satu pasang alel dalam satu lokus, maka disebut alel ganda atau multiple alelmorfi.
Pada sebuah gen yang hanya memiliki sebuah alel saja atau alel tunggal, terjadi pemunculan sifat dengan ekspresi penuh atau dominan. Misalnya pada suatu gen dominan R (merah) mempunyai alel r (putih), T (tinggi) mempunyai alel t (pendek), B (bulat) mempunyai alel b (oval).
Pada multiple alelmorfi, terjadi perbedaan sifat pengeksrpesian suatu gen. Dua gen yang terdapat dalam lokus yang sama akan dapat memunculkan ekspresi yang berbeda karena adanya interaksi antara kedua gen tersebut. Interaksi tersebut dapat berupa pemnculan sifat yang dominan pada satu gen(menutupi sifat lain), atau bercampurnya pemunculan sifat gen yang ada sehingga memunculkan sifat kombinasi antara gen-gen tersebut/ seimbang.
Sebuah gen dapat memiliki lebih dari sebuah alel . Alel–alelnya disebut alel ganda (multiple allele).  Sedangkan peristiwa sebuah gen dapat mempunyai lebih dari satu alel disebut  multiple allelomorphy (Henuhili dan Suratsih ,2003: 44 ).
Alel merupakan bentuk alternatif suatu gen yang terdapat pada lokus (tempat) tertentu. Individu dengan genotipe AA dikatakan mempunyai alel A, sedang individu aa mempunyai alel a. Demikian pula individu Aa memiliki dua macam alel, yaitu A dan a.  Jadi, lokus A dapat ditempati oleh sepasang (dua buah) alel, yaitu AA, Aa atau aa, bergantung kepada genotipe individu yang bersangkutan.
Namun pada kenyataannya, peristiwa yang sebenarnya lebih umum dijumpai adalah munculnya lebih dari dua macam alel pada suatu lokus tertentu, sehingga lokus tersebut dikatakan memiliki sederetan alel. Fenomena semacam ini disebut sebagai alel ganda (multiple alleles).
Meskipun demikian, pada individu diploid, yaitu individu yang tiap kromosomnya terdiri atas sepasang kromosom homolog, betapa pun banyaknya alel yang ada pada suatu lokus, yang muncul hanyalah sepasang (dua buah). Katakanlah pada lokus X terdapat alel X1, X2, X3, X4, X5.  Maka, genotipe individu diploid yang mungkin akan muncul antara lain X1X1, X1X2, X1X3, X2X2 dan seterusnya. Secara matematika hubungan antara banyaknya anggota alel ganda dan banyaknya macam genotipe individu diploid dapat diformulasikan sebagai berikut.

Banyaknya macam genotipe = 1/2 n ( n + 1 )
 
                                                                             atau         
          
                                      n = banyaknya anggota alel ganda 
Sebagian besar gen yang ada dalam populasi sebenarnya hadir dalam lebih dari dua bentukan alel ( Campbell,2003 :267). Contohnya adalah alel ganda pada  sistem Golongan darah ABO dimana  alel  IA dan IB  dominan terhadap alel Ii atau I0  dan alel ganda pada rambut segmen digitalis jari – jari tengah . Sedangkan pada kelinci alel ganda terdapat pada bulu ( C+ > Cch > Ch> C ).  Alel ganda pada golongan darah sistem AB0
      Pada golongan darah ini, ada 3 macam alel yang dominansinya berbeda dengan pada warna bulu kelinci
Golongan Darah               Macam Genotipe         AB                                         IA IB           A                                       IA IA ; IAi           B                                        IB IB; IBi           O                                          Ii (I0I0)
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa: Gen IA dominan terhadap i atau I0 Gen IB dominan terhadap I atau I0 Gen I (I0) adalah resesif berfenotipe golongan darah 0 Sedang IA dan IB sama – sama dominanterhadap I sehingga genotipe IAIB berfenotipe golongan darah AB. Jadi gen I (I0) mempunyai alel IA dan alel IB.
Contoh : Bagaimanakah kemungkinan fenotipe golongan darah anak – anak yang lahir dari perkawinan antara pria bergolongan darah A heterozigot dengan wanita bergolongan darah B heterozigot pula?
P                    IAi             ><               IBi
G                     IA                                 IB                           i                                    i F       IAIB = golongan darah AB          IAi    = golongan darah A          IBi    = golongan darah B          Ii       = golongan darah O
contoh lain yang merupakan peristiwa dari alel ganda adalah tumbuhnya rambut pada segmen digitalis tengah jari-jari tangan. Penentuan dominasi pada rambut digitalis tengah jari tangan adalah sebagai berikut.
H1 > H2 > H3 > H4 > H5
Dimana :
·         H1 = Rambut terdapat pada semua jari
·         H2 = Rambut pada jari kelingking, jari manis, dan jari tengah
·         H3 = Rambut pada jari manis dan jari tengah
·         H4 = Rambut hanya pada jari manis saja
·         H5 = Tidak ada rambut pada keempat jari.

biologi sebagai ilmu

A.    Latar Belakang
Ilmu selalu berkembang hal ini dapat menyebabkan perubahan dalam pemahaman terhadap ilmu tertentu. Perubahan itu dapat menyebabkan hilangnya suatu paham yang lama dan diganti paham yang baru atau juga dapat menyebabkan berkembangnya paham lama menjadi lebih konkrit serta kompleks. Perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan alam (IPA) telah mengubah sejarah kehidupan manusia. Perkembangan ini semakin pesat karena didorong oleh teknologi baru yang semakin canggih sehingga memudahkan manusia dalam  merancang dan menganalisis hasil-hasil penelitian. Perkembangan ilmu ini tentunya berakibat terhadap perkembangan biologi sebagai ilmu. biologi sebagai ilmu berkembang mulai dari saat biologi dikenal dengan ilmu yang mempelajari mahluk hidup yang tema pokoknya adalah ciri-ciri dan klasifikasi mahluk hidup sampai pada tingkat yang lebih detail yaitu ketika biologi dikenal sebagai ilmu yang menggunakan metodologi yang konsentrasinya pada tingkat sel dan molekuler bahkan pada perkembangan terbaru biologi dikenal sebagai ilmu yang menggunakan pendekatan sains, teknologi, masyarakat, dan lingkungan.
Perkembangan biologi sebagai ilmu tentunya dapat diterima apabila memenuhi kriteria syarat untuk dikatan sebagai ilmu.
 Karkteristik Biologi sebagai ilmu (Sains)
a)      Ilmu pengetahuan berkembang karena hakikat manusia yang serba ingin tahu. Mengembangkan ilmu pengetahuan tidak harus berawal dari nol, melainkan bisa dari hasil penelitian orang lain asal sesuai dengan karakteristik sains itu sendiri. Biologi bagian dari sains yang memiliki karakteristik yang sama dengan ilmu sains lainnya. Adapun karakteristik ilmu pengetahuan alam termasuk biologi (SAINS/IPA) yaitu:
b)      Obyek kajian berupa benda konkret dan dapat ditangkap indera Dikembangkan berdasarkan pengalaman empiris (pengalaman nyata) Memiliki langkah-langkah sistematis yang bersifat baku
c)      Menggunakan cara berfikir logis, yang bersifat deduktif artinya berfikir dengan menarik kesimpulan dari hal-hal yang khusus menjadi ketentuan yang berlaku umum. Bersifat deduktif artinya berfikir dengan menarik kesimpulan dari hal-hal yang umum menjadi ketentuan khusus.
d)     Hasilnya bersifat obyektif atau apa adanya, terhindar dari kepentingan pelaku (subyektif) Hasil berupa hukum-hukum yang berlaku umum, dimanapun diberlakukan
Semakin berkembangnya ilmu biologi karena teknologi yang maju tidak di imbangi dengan cara penyampaian ilmu biologi yang sesuai harapan pada pembelajaran biologi. Pembelajaran biologi masih cenderung menggunakan metode ceramah yang menyebabkan pendidik lebih dominan dari pada anak didik. Apakah yang menyebabkan pendidik lebih memilih metode ceramah dibandingkan metode yang lainnya? Serta bagaimana karakteristik biologi sebagai ilmu dari pengertian biologi sebagai ilmu di masa dahulu sampai pengertian biologi sebagai ilmu di masa sekarang. Tentunya hal ini menarik untuk dikaji.
B.     Pembahasan
Biologi berasal dari kata BIOS = HIDUP,  LOGOS = PENGETAHUAN. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa biologi adalah ilmu yang mengkaji dan mempelajari tentang mahluk hidup.  Jadi Biologi merupakan ilmu pengetahuan yang paling dekat dengan kehidupan. Biologi merupakan bidang ilmu yang luas, bagian dari IPA serta berkaitan dengan ilmu-ilmu yang lain contohnya fisika, kimia. Geografi
Biologi termasuk dalam ilmu Sains. Sains adalah ilmu pengetahuan tentang fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian di alam untuk mempelajari alam apa adanya.
Ciri-ciri ilmu pengetahuan alam (SAINS) termasuk biologi yaitu:
1.      Objek kajian berupa benda konkret dan dapat ditangkap indera
2.      Dikembangkan berdasarkan pengalaman empiris (pengalaman nyata)
3.      Memiliki langkah-langkah sistematis yang bersifat baku
4.      Menggunakan cara berpikir logis, yang bersifat deduktif artinya berpikir dengan menarik kesimpulan dari hal-hal yang khusus menjadi ketentuan yang berlaku umum. Bersifat induktif  berarti berpikir dengan menarik dari hal-hal umum menjadi khusus
5.      Hasilnya bersifat obyektif atau apa adanya, terhindar dari kepentingan pelaku (subyektif)
6.      Hasil berupa hukum-hukum yang berlaku umum, dimanapun diberlakukan.
Berdasarkan karakteristik diatas biologi dapat dikatakan sebagai sains apabila memiliki suatu metode. Dalam hal ini biologi memiliki suatu metode yaitu metode ilmiah.
·           Metode Ilmiah
Biologi merupakan cabang sains yang mempelajari berbagai permasalahan makhluk hidup, dan untuk mempelajari melalui proses dan sikap ilmiah ini sebagai konsekuensi biologi. Dengan menggunakan proses dan sikap ilmiah akan memperoleh produk ilmiah. Dalam mempelajari sains terdiri dari 3 komponen yaitu :
a.       Sikap ilmiah
Merupakan sikap yang harus dimiliki untuk berlaku obyektif dan jujur saat mengumpulkan dan menganalisa data.
b.      Proses ilmiah
Merupakan perangkat ketrampilan kompleks yang digunakan dalam melakukan kerja ilmiah. Proses ilmiah dapat dilakukan dengan pendekatan ketrampilan proses dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
b.1. Ketrampilan proses sains dasar, meliputi:
a. Mengobservasi
Mencari gambaran atau informasi tentang objek penelitian melalui indera. Dalam biologi hasil observasi seringkali dibuat dalam bentuk gambar (misal gambar dunia dll), bagan (missal bagan siklus hidup kupu-kupu), tabel (misal tabel pertumbuhan penduduk suatu wilayah), grafik (misal grafik hubungan antara tabel pertumbuhan kecambah), dan tulisan.
b.    Menggolongkan
Untuk mempermudah dalam mengidentifikasi suatu permasalahan
c.    Menafsirkan
Memberikan arti sesuatu fenomena/kejadian berdasarkan atas kejadian lainnya.
d.   Mempraktikkan/meramalkan
Memperkirakan kejadian berdasarkan kejadian sebelumnya serta hukum-hukum yang berlaku. Prakiraan dibedakan menjadi dua macam yaitu prakiraan intrapolasi yaitu prakiraan berdasarkan pada data yang telah terjadi; kedua prakiraan ekstrapolasi yaitu prakiraan berdasarkan logika di luar data yang terjadi.
e.    Mengajukan pertanyaan
Berupa pertanyaan bagaimana, karena pertanyaan ini menuntut jawaban yang diperoleh dengan proses.
b.2. Ketrampilan proses sains terpadu, yang terdiri dari:
a. Mengidentifikasi variabel
b. Menyusun tabel data
c. Menyusun grafik
d. Mendeskripsikan hubungan antar variabel
e. Perolehan data dan pemrosesan data
f. Menganalisia penyelidikan
g. Merumuskan hipotesis
h. Mendefinisikan variabel secara operasional
i. Melakukan eksperimen
j. Inferens
b.3. Langkah sistematis dalam proses ilmiah/metode ilmiah meliputi:
Merumuskan masalah
Ada tiga cara dalam merumuskan permasalahan yaitu:
a. Apakah variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat objek eksperimen?
b. Bagaimana pengeruh variabel bebas terhadap variabel terikat objek eksperimen?
c. Apakah ada hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat objek eksperimen?
Menyusun kerangka berfikir/Mengumpulkan keterangan
Kerangka berfikir dicari melalui kepustakaan atau fakta empiris (observasi).
Merumuskan hipotesis
Hipotesis merupakan suatu dugaan yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah sebelum dibuktikan. Ada 2 macam hipotesis dalam eksperimen yaitu:
a. Hipotesis nol (H0) : tidak ada pengnaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat b. Hipotesis alternatif (H1) : ada pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat

struktur dan fungsi silia

MAKALAH BIOLOGI SEL DAN MOLEKULER
STRUKTUR DAN FUNGSI SILIA, FLAGELA, SITOSKELETON
Disusun oleh:
(Kelompok 6)
                                          Harini Asri Bahari                      10304241008
                                          Annisah Latifatun Hasanah       10304241012
                                          Prima Siti N                               10304241015
                                          Ardhiana Iffa Farida                  10304241024
                                          Dini Asri                                    10304241025
                                          Galay Widhiasmoro                   10304241035
Prodi: Pendidikan Biologi Subsidi
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
            Kesan yang tertangkap saat kita membicarakan sel adalahsel hanya terdiri dari sitosol yang berupa cairan yang kental dan elastis dengan organela-organela yang kesemuanya dilindungi oleh membran sel. Jika dibayangkan, mungkin sel seperti halnya kantong plastik yang berisi cairan kental dan benda-benda kecil. Kemungkinan, sel seperti halnya sebuah benda yang lembek dan mudah berubah bentuk. Tetapi benarkah demikian? Kita menyaksikan bahwa jaringan-jaringan pembentuk organ yang disusun oleh sel-sel ternyata begitu kokoh dan sama sekali tidak berkesan lembek.
            Seorang ilmuwan bernama Keith Porter dan sejawatnya berhasil melihat sel dengan menggunakan teknik HVEM (High Voltage Electron Microscope), yaitu suatu cara untuk melihat sel tanpa penyelubungan (embeding). Pengamatan dengan teknik ini menunjukkan bahwa bagian sitoplasma yang berada di sela-sela organela tampak penuh dengan anyaman trimata benang-benang yang sangat halus (filamen-filamen). Anyaman ini disebut dengan jala-jala mikrotrabekula. Dalam perkembangannya dan karena anyaman tadi terdapat di dalam sitosol serta membentuk kerangka sel, maka mikrotrabekula ini kemudian dikenal dengan nama sitoskeleton (cyto: sel dan skeleton: rangka).
            Berdasarkan struktur dan garis tengahnya, filamen-filamen yang terdapat pada sitosol tersebut dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu mikrotubula, mikrofilamen, dan filamen intermedia. Mikrotubula, mikrofilamen, dan filamen intermedia merupakan suatu protein yang berbentuk benang-benang halus (filamen), yang dinamis, selalu terakit dan terurai. Selain itu, protein-protein itu saling berikatan sehingga membentuk suatu jaring-jaring yang disebut sitoskelet atau rerangka sel. Sitoskelet ini juga berfungsi memberi bentuk sel, mengatur kemampuan sel bergerak dan kemampuan mengatur orgenel-organel serta memindahkan organel-organel itu dari satu bagian ke bagian sel yang lain.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    SITOSKELETON
Konsep dan istilah dari sitoskeleton (cytosquelette, dalam bahasa Perancis) pertama kali diperkenalkan oleh Paulus Wintrebert pada 1931. Sitoskeleton atau kerangka sel adalah jaring berkas-berkas protein yang menyusun sitoplasma eukariota. Sitoskeleton memiliki peranan penting dalam pengorganisasian struktur dan aktivitas sel. Fungsi yang jelas dari sitoskeleton adalah untuk memberikan dukungan mekanis pada sel dan mempertahankan bentuknya. Sitoskeleton merupakan tempat bergantung banyak organel bahkan molekul enzim sitosol. Sitoskeleton lebih dinamis dari pada rangka hewan.
Sitoskeleton juga terlibat dalam beberapa jenis motilitas (gerak) sel. Motilitas sel di sini mencakup perubahan tempat sel maupun pergerakan bagian sel yang lebih terbatas. Motilitas membutuhkan interaksi sitoskeleton dengan protein yang disebut motor. Molekul motor sitoskeleton menggoyangkan silia dan flagela. Molekul ini juga menyebabkan semua otot berkontraksi. Vesikula mungkin berjalan ke tujuannya dalam sel disepanjang mono-rel yang disediakan oleh sitoskeleton, dan sitoskeleton memanipulasi membran plasma untuk membentuk vakuola makanan selama fagositosis. Aliran sitoplasma yang mensirkulasi materi dalam banyak sel tumbuhan besar merupakan jenis lain gerak seluler yang disebabkan oleh komponen sitoskeleton.
Kemungkinan terakhir dari fungsi sitoskeleton adalah pengaturan aktivitas biokimiawi dalam sel. Beberapa bukti bahwa sitoskeleton dapat menghantarkan gaya mekanis dari permukaan sel ke bagian dalamnya, dan bahkan melalui serabut lain, ke dalam nukleus.
Sitoskeleton atau rangka sel tersusun atas tiga jenis serabut yang berbeda, yaitu: mikrofilamen, mikrotubulus, dan filament intermediet.
B.     MIKROTUBULA
1.      Monomer penyusunnya
Mikrotubul ditemukan dalam sitoplasma semua sel eukariotik. Mikrotubula berupa batang lurus dan berongga yang berdiameter sekitar 25 nm dan mempunyai panjang dari 200 nm hingga 25 µm. Mikrotubula dibentuk dari protein globular yang disebut tubulin, setiap molekul tubulin terdiri merupakan heterodimer yang terdiri dari dua sub unit globular yang terikat erat. Sub unit-sub unit tersebut protein sejenis yang diberi nama α-tubulin dan β-tubulin. Keduanya memiliki ukuran yang hampir sama, masing-masing dengan berat molekul sekitar 55.000 dalton. Dua molekul, astu dari masing-masing tipe bergabung cesaca nonkovalen untuk membentuk dimer. Dimer adalah blok bangunan untuk mendirikan mikrotubula. Satu persatu dimer membentuk dinding silinder dalam bentuk heliks (pilinan). Mikrotubula memanjang dengan menambah molekul tubulin di ujung-ujungnya.
gambar
2.      Polimerisasi
Sebelum molekul-molekul tubulin terakit menjadi mikrotubula, terlebih dahulu mereka menyusun diri membentuk protofilamen dengan cara β-tubulin dari sebuah molekul tubulin berlekatan dengan sub unit α-tubulin dari molekul tubulin yang lain yang berada di sampingnya. Sebuah mikrotubula juga disebut singlet mikrotubula yanng terdiri dari 13 protofilamen yang tersusun membentuk suatu lingkaran. Jika dua buah protofilamen dari sebuah mikrotubula (misalnya mikrotubula A) juga menjadi milik mirotubula yang lain (misalnya mikrotubula B) maka dua buah mikrotubula tersebut disebut doublet. Mikrotubula memilki kutub positif yaitu kutub yang pertumbuhannya cepat dan kutub negative yaitu kutub yang pertumbuhannya lambat. Hal ini disebabkan oleh susunan protofilamen yang sejajar sat terhadap yang lain dan sesuai dengan polaritas masing-masing
Terdapat dua kelmpok mikrotubula yaitu (1) mikrotubula stabil, adalah mikrotubula yang dapat diawetkan dengan larutan fiksatif apapun, misalnya OsO4, MnO4 atau aldehid dan suhu berapapun. (2) mikrotubula labil, yaitu mikrotubula yang  hanya dapat diawetkan dengan larutan fiksatif aldehida pada suhu sekitar 40C. Pada bagian ini khusus akan dibahas mikrotubula yang labil.
Mikrotubual mempunyai ujung positif dan ujung negatif. Ujung positif adalah tempat dimer-dimer bersatu membentuk heterodimer sedangkan jung negatif adalah tempat lepasnya dimer-dimer tubulin dari ikatan heterodimer mikrotubula. Hal ini memnyebabkan struktur mikrotubula tersebut labil atau bergerak.
Gambar
Mikrotubula labil terdapat di dalam sitoplasma, oleh karena itu disebut mikrotubula sitoplasma. Mikrotubula sitoplasma ini berfungsi dalam  membri bentuk sel, membantu gerakan sel, dan menentukan bidang pembelahan sel. Kelabilan mikrotubula dapat diterangkan berdasarkan hipotesis Kirschner dan Mitchison yaitu terhidrolisis atau tidaknya GTP. Jika GTP tidak terhdroisis maka akan terjadi proses perakitan mikrotubula, sebaliknya jika GTP terhidrolisis maka akan terjadi pembongkaran mikrotubula.
gambar
3.      Fungsi lain mikrotubul
a.       Sebagai pemandu gerakan organela di dalam sitoplasma
b.      Sebagai penentu tempat RE dan aparat golgi di dalam sitoplasma
Kegiatan dan fungsi mikrotubula sebagian besar berlandaskan pada kelabilannya.
c.       Memisahkan kromosom pada peristiwa mitosis
Salah atu contoh yang mencolok adlah terbentuknya gelendong mitosis atau apparatus mitosis yang terbentuk setelah mikrotubula sitoplasma terurai di awal mitosis. Mikrotubula gelendong mitosis pada umumnya sangat labil, cepat terakit maupun terurai. Hal ini yang menyebabakan sangat pekannya gelendong mitossi terhadap pengaruh obat-obatan.
4.      Pembentukan mikrotubul dan fungsinya balam pembelahan sel
Untuk mengatahui hal ini perlu mengetahui  MTOC (microtubule organizing center). MTOC adalah tempat dimana mikrotubul mulai terbentuk dengan kumpulan beberapa struktur special yang bervariasi. Dengan teknik imunofluoresensi pada sel yang dibiakkan pada stadium interfase tampak bahwa mikrotubula paling banyak terdapat di sekitar inti sel. Dari daerah ini terpancar dalam bentuk anyaman benang-benang halus ke arah perifer sel. Asal mikrotubula dapat diketahui dengan tepat denga jaan mendepolimerisasi dan membiarkannya tumbuh kembali. Mkkrotubula yang timbul kembali semula terllihat seperti bintik kecil yang bebentuk bintang sehingga disebut aster. Pancaran benang–benang halus itu memanjang ke arah tepi sel sampai penyebaran awal terbentuk kembali. Daerah tempat timbulnya aster disebut MTOC (microtubule organizing center). Dengan menggunakan perunut dapat diketahui bahwa kutub negatif mikrotubula berada di daerah MTOC sedangkan kutub positifnya menjauhi MTOC.
Sebagian besar sel hewan memiliki sebuah MTOC utama yang disebut pusat sel atau sentrosoma. Sentrososm terletak di salah satu sis inti dan terdapat sepasang sentrioma yang terpasang tegak lurus satu sama lain. Tidak semua MTOC memiliki sentriola, misalnya MTOC pada sel tumbuhan. Disini mikrotubula aster muncul dari sentrosoma yang hanya terdiri dari materi padat elektron, tidak seperti aksonema pada silia yang tumbuh langsung dari sentriola. Mikrotubula sitoplasam tidak langsung berpangkal pada sentriola itu sendiri melainkan timbul dari materi tanpa gatra yang terdapat di sekeliling sentriola. Aapbila sentrosoma dengan materi yang terdapat di sekitarnya diisolasi dan dicampur degan tubulin murni kemudian ditumbuhkan in vitro maka isolate tadi akan mengawali perakitan dengan sangat cepat. Seperti halnya mikrotubula in vivo, ujung negatifnya berpangkal pada materi perisentriolar. Jumlah mikrotubula yang dapat ditimbulkan oleh isolate sentroma manapun tampaknya tetap dan sesuai denga jumlah mikrotubula yang melekat pada sentrososm di dalam seltempat asal isolate tersebut. Pada fibroblast stadium inerfase jumlah mikrotubula sekitar 250 buah.
Mikrotubula sitoplasma pada hewan cenderung memancar ke segala arah dari sentroma. Bagaimanapun juga sel hewan bersifat polar dan perakitan molekul tubulin menjadi mikrotubula dipantau sedemikian rupa sehngga mikrotubula yang terbentuk menjulur ke arah tertentu dari sel. Mekanisme kejadian ini tampaknya berlandaskan pada sifat dinamis pada mikrotubula. Pancaran mikrotubula dari sentrosom sealu berubah-ubah seiring dengan pertumbuhandan perombakannya.
Sel yang sdang dalam tahap mmbelahi mikrotubulnya bersifat labil, artinya mikrotubula di dalam sel akan terus menerus terakit dan terurai. Tetapi sel-sel pada jaringan yang sudah dewasa (sudah terdiferensiasi) memiliki mikrotubula yang stabil. Kestabilan mikrotubula ini dientukan oleh modifikasi pasaca translasi dan sebagian lagi oleh transaksi antara mikrotubula dengan protein khusus pengikat mikrotubula yang disebut MAPs (microtubule associated proteins) yang berfungsi menghalangi penguraian mikrotubula dan memacu interaksi mikrotubula dengan komponen sel lainnya.

Koneksi antar materi modul 3.2 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya

Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dan pengimplementasian di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.  a.   ...